
If perfect’s what you’re searching for, then just stay the same,
Blog atas panggilan hati...
tak tahu kemana arahnya...
hanya mengikuti kemana hati bergerak...
yah, seperti awan yang bergerak sesuai arah angin...
bergerak di langit biru yang sangat luas...
Luas tanpa batas....
Cinta merupakan sebuah fenomena yang ngga pernah lepas dari setiap sendi kehidupan manusia. Apapun itu, cerpen, novel, Film, sinetron dan lain sebagainya semua selalu memunculkan apa yang kita sebut bersama, cinta. Tapi, jika kita membicarakan cinta itu terlalu luas dan tidak semudah apa yang kita pikirkan. Untuk mempersempit itu, kita akan melihat cinta yang fenomenal di kalangan anak muda, antara seorang pria dan wanita. Cinta yang tumbuh ini memunculkan apa yang kita sebut dengan “pacaran”.
Pacaran, sebuah status yang sepertinya sangat dibutuhkan oleh anak muda zaman sekarang. Seakan-akan hidup itu kurang bermakna tanpa status tersebut. Saya sendiri pun tidak mengetahui, istilah pacaran itu datang dari mana dan arahnya kemana tetapi istilah itu sekarang sangat popular.
Sepanjang pengamatan saya, ada satu hal yang menjadi pertanyaan saya. Mengapa seorang sahabat bisa dengan mudah berubah status menjadi pacar tetapi sebaliknya, kenapa seorang pacar susah untuk dijadikan sahabat ketika hubungan tersebut berakhir? Apalagi ketika hubungan tersebut berakhir dengan kebencian, malah bisa menjadi musuh. Kenapa, saat masih menjadi sahabat, ketika dia menceritakan kedekatannya dengan lawan jenis, kita dengan enteng membombandir sahabat kita dengan berjuta pertanyaan, Siapa? Koq ngga dikenalin sich? Anak mana? Kapan lo jadian? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Bagaimana kalau statusnya naik ke level pacar? Seandainya dia menceritakan lawan jenis maka kita juga dengan enteng membombandir dirinya dengan marah, ngambek, kesal, didiamkan dan sebagainya. Koq pacaran itu kelihatan susah ya? Bersahabat dengan lawan jenispun susah. Bagaimana tidak, ketika kita dekat dengan lawan jenis, baik pria dan wanita, orang-orang akan memandang bahwa keduanya berpacaran dan terpengaruh dengan pandangan orang lain, maka keduanya sepakat untuk menaikan level, yang semula “sahabat” menjadi “pacar”.
Banyak yang mengatakan bahwa pacaran tersebut merupakan tahap pengenalan sebelum memasuki jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu yang kita sebut dengan pernikahan. Lalu muncul sebuah pemikiran dalam kepalaku, untuk masuk ke jenjang yang kita sebut pernikahan itu adalah bertunangan terlebih dahulu bukan? Kenapa harus melalui pacaran? Mungkin banyak yang akan menjawab, sebelum bertunangan, kita harus pacaran terlebih dahulu untuk mengenal satu sama lain. Lalu muncul pertanyaan lain, kenapa harus berpacaran? Bukankah persahabatan termasuk tahap pengenalan? Saat kita bertemu seseorang, kita pasti menanyakan nama terlebih dahulu kemudian alamat, dan lain sebagainya. Untuk hal tersebut, berarti kita telah memasuki proses pengenalan itu sendiri. Selanjutnya, ketika kita mulai menjadikan orang itu sahabat, kita mulai mempelajari karakter orang tersebut, kebiasaannya, hobby, makanan favoritenya, minuman favoritenya, bagaimana ketika dia senang, bagaimana ketika dia marah, bagaimana ketika dia sedih, kita mulai berbagi satu sama lain. Bukankah ini bisa disebut proses pengenalan juga? Berarti bohong jika kita katakan pacaran merupakan proses pengenalan karena kita pacaran dengan seseorang karena kita sudah mengenalnya, pacaran yang paling cepat pun setidaknya kita sudah tahu nama dan alamatnya. Tidak mungkin ada orang yang berpacaran tanpa mengenal siapa nama pacarnya! Menjadi sahabatpun adalah proses pengenalan.
Lalu, apa yang membedakan persahabatan dan pacaran? Apa yang menyebabkan status pacaran itu memiliki “level” yang lebih tinggi dari persahabatan? Yang membuat “pacaran” memiliki level yang lebih tinggi dari “persahabatan” itu hanyalah perubahan mindset atau pola pikir kita saja! Percaya atau tidak, kalian bisa amati disekitar kalian sendiri, ketika statusnya masih “sahabat” mindset kalian menyebutkan dia adalah milik bersama. Jadi, ketika dia mendapat kenalan baru, terutama lawan jenis kalian tidak akan complain, dia mau jalan dengan siapapun kalian tidak akan protes, ketika dia sibuk dengan dirinya sendiri kalian tidak akan marah, ketika dia berhenti menghubungi dirimu, kamu ngga kenapa-kenapa. Bagaimana ketika statusnya dinaikan ke level “pacar”? Hati-hati saja, seharian ngga dihubungi, kita ngomel-ngomel. Dia jalan sama orang lain, kita cemburu dan ngamuk-ngamuk. Dia jalan bareng sahabatnya pada malam minggu, kita marah-marah dan bilang dia lebih peduliin sahabatnya dibandingkan kita, pacarnya. Dia yang tidak berada dengan kita, kita menjadi curiga, khawatir dia pacaran dengan orang lain atau istilah kerennya, selingkuh. Apapun yang dilakukan pacar kita semuanya harus dalam sepengetahuan kita. Ketika kalian pacaran, mindset kalian berubah. She or He is mine! Dia milikku! Seharusnya, konsep pemikirian seperti itu dimunculkan paling cepat saat kita sudah bertunangan dan memutuskan untuk segera menikah. Ingatlah, dengan pacaran kalian belum terikat satu sama lain. Masing-masing masih memiliki dunia sendiri yang harus dijalani. Berbeda saat kita sudah menikah, kita dan pasangan kita sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Jadi, sebenarnya apa yang mendasari kita memutuskan untuk pacaran? Yang pasti, pacaran bukanlah tahap pengenalan karena dengan menjadi sahabatpun kita sudah belajar mengenal orang tersebut. Bahkan kamus besar bahasa indonesiapun hanya menjabarkan bahwa, “pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih” melihat deskripsi itu berarti pacaran juga hanyalah sebuah persahabatan. Jika dikatakan berdasarkan cinta kasih, maka itu lebih menjurus ke cinta eros. Sekali lagi, yang membuat pacaran menjadi lebih special dari hubungan persahabatan adalah perubahan mindset kita dan juga kita tidak mungkin bermesraan dengan semua gadis kan? Pacar adalah sahabat yang sangat special.
“Your mindset that make the relationship is very special”
Kesalahan. Ya, siapa saja pasti pernah melakukan kesalahan entah itu disengaja ataupun terjadi tanpa disadari. Seandainya ada yang berkata, “Aku tidak pernah melakukan kesalahan kok”, maka orang yang seperti ini bisa kita anggap bukan manusia, tetapi batu, mungkin. Atau ada yang punya tanggapan lain?
Kembali kemasalah kesalahan tadi, saya ingin bertanya, seberapa sering anda melakukan kesalahan? Tidak perlu berpikir keras untuk mendata kesalahan yang anda perbuat karena saya yakin pasti sangat banyak, ribuan mungkin. Dan apakah anda pernah duduk diam sejenak untuk merenungkan kesalahan-kesalahan anda? Hei… hei…. Maksudku bukan sekarang, merenungnya kapan-kapan saja. Sekarang, Keep read, OK!
Saat anda melakukan kesalahan, maka timbul pikiran dalam benak anda kenapa saya melakukan seperti itu? Seandainya saja saya melakukan ini, hasilnya mungkin tidak seperti itu. Nah, akhirnya anda menyesal. Orang bilang, “penyesalan itu adanya di belakang” belakang mana? Yang pasti bukan belakang punggung anda. Ok, tulisan kali ini bukan akan membahas penyesalan karena seberapa dalam anda menyesal –walaupun sampai menangis 7 hari 7 malam– anda tidak dapat mengulangi pilihan-pilihan anda lagi.
Berdasarkan objeknya, kesalahan yang kita perbuat melingkupi dua tingkat, yaitu kesalahan pada diri sendiri dan kesalahan pada orang lain. Untuk kesalahan pada diri sendiri bisa ditolelir (tidak berlaku untuk penganut paham narsisme). Tapi bagaimana jika kita melakukan kesalahan pada orang lain? OK! Kita voting, siapa yang berpendapat kalau masalah ini sepele dan akan selesai dengan kata “I’m so sorry…” (diucapkan dengan tampang yang memelas tapi tanpa perasaan bersalah)? Atau siapa yang menganggap ini masalah luar biasa gawat sampai perlu dijadikan siaga 1? Silahkan pilih jawaban anda dengan cara ketik Salah
Kesalahan pada orang lain, C’mon guys… this is about another heart, jadi tidak bisa dianggap sepele. Apa yang menyebabkan persahabatan menjadi rusak? Apa yang menyebabkan cinta antara dua insan menjadi benci? Tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan itu sendiri. Salah menanggapi apa yang dimaksudkan, salah menanggapi perasaan orang lain, salah dalam berkata-kata, salah dalam bersikap, dan semuanya jadi serba salah kan? Dan sikap ego manusia yang tinggi menyebabkan kesalahan-kesalahan itu semakin berkuasa. Sikap manusia yang merasa diri paling benar dan tak mau disalahkan, sehingga ketika dia melakukan kesalahan tetapi enggan untuk meminta maaf bahkan malah mencari kambing hitam untuk kesalahan yang diperbuatnya sendiri.
Kita seringkali bertengkar dan saling menunggu, siapa yang akan terlebih dahulu meminta maaf. Masing-masing mempertahankan argumen, “dia yang salah jadi dia yang harus lebih dahulu minta maaf.” Karena saling tunggu ini, maka hubungan yang semula erat perlahan menjadi renggang. Ayolah, saatnya anda rendah hati dan ucapkan kata maaf itu. Jangan berkeras hati dengan mengikuti keegoisan hati anda. Karena anda akan merasa kehilangan orang-orang yang sangat berharga di hidup anda. Jangan biarkan kesalahan yang kita perbuat menjadi perusak hubungan kita dengan sesama.
Maaf, sebuah kata yang bahkan dengan mudah dapat diucapkan oleh anak kecil. Tapi yang sulit itu mengucapkannya dengan tulus. Ya, kita memang mahkluk paling egois, meminta maafpun harus dengan terpaksa. Dan tentu saja, orang tidak akan dengan mudah memaafkan. Kenapa? Egois, merasa harga diri paling tinggi! Itulah manusia.
Meminta maaf akan kesalahan harus dilakukan dengan tulus. Bukan sekedar berkata I’m so sorry… atau forgive me please…Tapi ucapkan itu saat anda benar-benar merasa bahwa apa yang anda lakukan itu salah, apa yang anda lakukan benar-benar menyakiti hati orang lain. Dan berjanjilah pada diri anda sendiri bahwa anda tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Saat anda mengakui kesalahan dan meminta maaf, anda bukan menjadi orang yang kalah, bukan menjadi pecundang, dan juga bukan menjadi orang yang harga dirinya telah jatuh. Ingat, anda adalah seorang yang luar biasa, seorang pemenang diatas pemenang lainnya. Bukan sekedar pemenang perang, pemenang perlombaan. Kenapa? Karena anda berhasil mengalahkan keegoisan anda, berhasil mengalahkan kesombongan anda. Musuh terbesar manusia adalah manusia itu sendiri dengan segala keegoisannya, segala kesombongannya, segala ketamakannya.
Apologize with sincerely heart and effort to never do the same mistake that make all is well.